Oleh : Nur Hajijah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
Di tanah Gayo Lues, suasana setelah Idul Fitri tidak pernah benar-benar sepi, Justru setelah takbir mereda dan silaturahmi keluarga mulai usai, masyarakat kembali menemukan cara lain untuk merayakan kebersamaan. Yaitu tradisi bejamu saman satu hari satu malam menjadi ruang hidup di mana kampung-kampung saling mengunjungi, membawa semangat persaudaraan yang telah diwariskan turun-temurun.di sini lebaran tidak hanya tentang kemenangan spiritual, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial melalui budaya yang hidup dan terus bergerak.
Sejak siang hari, suasana kampung sudah terasa berbeda. Warga sibuk melakukan berbagai persiapan untuk menyambut tamu; hidangan disusun rapi, rumah-rumah dibersihkan, dan segala kebutuhan dipastikan siap. Wajah-wajah penuh harap terlihat di setiap sudut kampung, menandakan antusiasme menyambut rombongan dari kampung lain.
Memasuki sore hari, para tamu mulai berdatangan dan disambut dengan penuh kehangatan, seolah bukan orang asing, melainkan keluarga yang telah lama dirindukan. Setelah penyambutan, para tamu tidak langsung menuju rumah masing-masing, melainkan terlebih dahulu berkumpul di balai desa. Di sanalah berlangsung prosesi pemanggilan satu per satu untuk pembagian “serinen” atau sahabat. Setelah mendapatkan serinen, barulah para tamu dibawa ke rumah masing-masing. Di rumah inilah mereka langsung dijamu dengan hidangan yang telah disiapkan, sambil berbagi cerita dan tawa yang menghangatkan suasana kebersamaan.
Setelah dari rumah serinen atau sahabat tersebut, para tamu biasanya kembali berkumpul di balai desa untuk melanjutkan rangkaian acara berikutnya. Sebelum memulai pertunjukan tarian Saman, acara biasanya diawali dengan “ejer marah” atau dalam bahasa Indonesia berarti memberi arahan kepada para peserta. Setelah itu, suasana semakin meriah dengan penampilan tarian saman yang dibawakan dengan penuh semangat dan kekompakan.
Cahaya lampu mulai menerangi lapangan atau halaman tempat pertunjukan berlangsung. Para penari Tari Saman bersiap, duduk berbanjar rapi, menunggu aba-aba untuk memulai. Ketika syair pertama dilantunkan, suasana seketika berubah. Tepukan tangan yang serentak, gerakan tubuh yang cepat dan harmonis, serta suara lantang yang menggema menciptakan energi yang luar biasa. Penonton terpukau, larut dalam ritme yang terus meningkat, seakan waktu berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi keindahan itu.
Pertunjukan berlangsung secara bergantian antara tuan rumah dan tamu. Setiap kelompok berusaha menampilkan yang terbaik, bukan untuk bersaing secara keras, melainkan untuk menunjukkan identitas dan kekompakan mereka. Tari Saman ditampilkan dengan penuh energi dan kekompakan, menghadirkan suasana yang meriah dan memukau para penonton.
Setelah beberapa sesi Tari Saman, acara dilanjutkan dengan Tari Bines yang biasanya dibawakan oleh remaja perempuan. Dengan gerakan yang lebih lembut dan anggun, Tari Bines menjadi penyeimbang di tengah dinamika Tari Saman yang penuh semangat, menambah keindahan dan variasi pertunjukan. Di sela-sela Tari Bines, biasanya ada tradisi “munajuk”, yaitu tamu memberi uang kepada penari sebagai tanda penghargaan dan dukungan, yang membuat suasana semakin interaktif dan hangat. Setelah Tari Bines, pertunjukan Tari Saman kembali berlanjut dan biasanya berlangsung hingga pagi hari, menciptakan pengalaman kebudayaan Gayo yang hidup, energik, dan tak terlupakan.
Menariknya, tradisi bejamu saman tidak berhenti dalam hitungan jam. Ia terus berlanjut hingga larut malam, bahkan sampai menjelang pagi. Dalam rentang satu hari satu malam itu, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari peristiwa budaya yang hidup. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berkumpul dalam satu ruang yang sama, berbagi pengalaman yang sulit dilupakan. Rasa lelah seakan tidak terasa, tergantikan oleh semangat kebersamaan yang terus mengalir.
Lebih dari sekadar hiburan, bejamu saman mengandung nilai-nilai kehidupan yang sangat dalam. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati tamu, menjaga hubungan sosial, serta melestarikan warisan budaya. Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, kehadiran tradisi ini menjadi pengingat bahwa identitas tidak boleh hilang. Justru melalui kegiatan seperti inilah, generasi muda belajar mengenal dan mencintai budaya mereka sendiri.
Akhirnya, bejamu saman bukan hanya tentang satu malam yang panjang, tetapi tentang perjalanan kebersamaan yang terus berlanjut. Ia menjadi simbol bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sesuatu yang harus terus dihidupkan. Di Gayo Lues, dalam setiap tepukan tangan dan lantunan syair, tersimpan cerita tentang persatuan, kebanggaan, dan harapan bahwa tradisi ini akan terus hidup, dari satu generasi ke generasi berikutnya.






























